March 23, 2014

Buku Rahasia Sukses Membuat Masakan Praktis & Lezat untuk Pemula


Harga: Rp 95.000
Penulis: Budi Sutomo
Tebal: 270 halaman
Terbit: Juli 2013

March 10, 2012

Telah Terbit! Rahasia Sukses Membuat Cake, Roti Kue Kering & Jajanan Pasar

Bagi sebagian orang, membuat roti, kue kering, cake, dan jajanan pasar sulit dilakukan. Kita sering mendengar sulitnya membuat, seperti kue bika ambon yang bersarang, cake bantat, kue kering keras, bolu tidak mengembang, atau kue mangkuk yang tidak merekah. Hal-hal seperti ini sebenarnya tidak perlu terjadi, asal sebelum membuat kue kita terlebih dahulu mengenal bahan dengan baik, mengolah dengan teknik pembuatan yang benar, menimbang bahan dengan tepat, serta mengetahui tip dan trik sukses membuat kue.

Dalam buku ini, penulis mengungkap dengan tuntas dan gamblang seluk beluk rahasia membuat berbagai cake, roti, kue kering, dan kue-kue tradisional. Buku ini dilengkapi dengan pengenalan bahan-bahan khas untuk membuat kue, serta puluhan resep yang telah lolos dapur uji sehingga tidak perlu takut untuk mencobanya. Foto dan ilustrasi pendukung juga turut memudahkan untuk melihat hasil akhir kue yang baik. Buku ditulis dengan bahasa yang jelas dan sistematis sehingga mudah dipahami oleh para pemula. Bila kurang jelas, pembaca juga diberikan link video panduan belajar membuat kue online di internet.

Penulis buku, Budi Sutomo, adalah seorang pakar kuliner yang telah bertahun-tahun menekuni dunia masakan. Berbekal latar belakang pendidikan di bidang boga serta pengalaman kerjanya baik di dalam maupun di luar negeri, ia telah menulis lebih dari 40 buku tentang gizi dan kuliner. Kumpulan resepnya sebagian bisa diakses di: www.budiboga.blogspot.com. Buku bisa dibeli di toko buku besar di Indonesia atau pesan melalui nomor HP 021-96016331.

Judul: Rahasia Membuat Cake, Roti, Kue Kering & Jajanan Pasar

Penulis: Budi Sutomo

Terbit: Maret 2012

Tebal: 144 halaman (full colour)

Ukuran: 17 x 23 cm

ISBN: 978-602-95205-5-2

Harga: Rp 55.000,-

February 28, 2012

5 Inspirasi Menulis Buku

Siapapun bisa jadi penulis. Bener lho. Berbagai ilmu, pengalaman, dan imajinasi bisa ditulis dan bermanfaat buat orang lain, untung juga kalau bisa dijadikan salah satu sumber penghasilan tambahan. Mau tau gimana cara mencari ilham untuk menulis, ini beberapa di antaranya:

1. Perhatikan lingkungan terdekat kita
Lingkungan terdekat kita paling banyak memberikan inspirasi dalam menulis. Bisa berupa keluarga, pasangan, orang tua, anak, atau dari kegiatan yang sering kita lakukan misalkan suatu perkumpulan dimana kita aktif di dalamnya. Dari lingkungan sekitar kita banyak hal yang bisa digali atau menjadi sumber inspirasi.

2. Menulis di bidang yang kita geluti atau minati, yang bisa bermanfaat untuk orang lain
Banyak sekali penulis yang memanfaatkan ilmu yang digelutinya untuk berbagi wawasan sekaligus mengembangkan bakat dan minatnya di dunia tulis menulis.

3. Perhatikan kisah hidup orang lain dengan banyak mendengar, membaca, dan bersosialisasi
Kisah hidup orang lain, yang mungkin kita kenal atau tidak, bisa menjadi sumber inspirasi dalam menulis. Banyak sekali cerita-cerita menarik yang bisa diangkat menjadi tema sebuah buku yang berasal dari kisah nyata seseorang, atau bisa dikembangkan ke cerita lainnya.

4. Menulis pengalaman hidup diri sendiri
Pengalaman hidup kita pun bisa dijadikan cerita, bila memang kita merasa ada sesuatu yang menarik untuk disampaikan dan bisa bermanfaat untuk orang lain.

5. Hasil karya penelitian di bangku kuliah
Skripsi atau tesis yang pernah kita buat dengan penuh perjuangan, bisa bermanfaat untuk orang lain. Jangan hanya disimpan di rak, karya penelitian yang ditulis ulang dengan menarik bisa diminati juga oleh pembaca.

Ada banyak inspirasi lainnya yang bisa digali lebih dalam. Tapi yang terpenting adalah kemauan untuk memulai menulis dengan menggali hal-hal yang menjadi minat kita untuk dituliskan dan dibagi dengan pembaca. Siapa tahu berawal dari menulis iseng-iseng buku Anda bisa menjadi best seller. Yuk mulai menulis.. :)

February 24, 2012

Resep Donat Kentang

Sore hari paling enak bikin kue untuk keluarga dan orang-orang yang terkasih.. Sstt..ini salah satu resep yang ada di buku terbaru kami "Rahasia Sukses Membuat Cake, Roti, Kue Kering & Jajanan Pasar" oleh Budi Sutomo, yaitu Donat Kentang. Makannya mungkin sudah pernah, tapi membuatnya ternyata juga mudah lho, ikuti saja resep di bawah ini ya...

Donat Kentang

Bahan:
400 g kentang, kupas, kukus, dan haluskan
400 g tepung terigu protein tinggi (hard wheat)/cap
cakra
2 butir telur ayam
11 g ragi instan
100 g margarin
10 g baking powder
100 g gula halus
50 g susu bubuk
150-200 ml air (perhatikan tekstur adonan)
½ sdt garam halus
60 g gula kastor/gula pasir/gula halus untuk

Taburan:
1 lt minyak goreng

Cara Membuat:
1. Campur kentang yang sudah dihaluskan,
tepung terigu, gula halus, baking powder, ragi
instan, garam, dan susu bubuk. Masukkan telur
dan air sedikit demi sedikit sambil diuleni.
2. Tambahkan margarin, uleni hingga kalis dan terbentuk adonan yang transparan. Bulatkan
adonan, biarkan mengembang 60 menit.
3. Potong dan timbang adonan masing-masing 50 g. Bulatkan, dan biarkan mengembang
lagi selama 30 menit.
4. Kempeskan masing-masing bulatan, dan bentuk kembali menjadi bola-bola. Lubangi
tengahnya dengan jari, diamkan lagi selama 20 menit.
5. Panaskan minyak dalam wajan. Goreng donat hingga matang dan berwarna kuning kecokelatan.
Angkat dan dinginkan.
64 Rahasia Sukses Membuat Cake, Roti, Kue Kering & Kue Jajanan Pasar
6. Sajikan donat dengan taburan gula halus, gula kastor, icing sugar, meises, keju, kacang,
atau sesuai selera.

Untuk 30 buah

Tip:
Kandungan air di dalam kentang berbeda-beda, karena itu perhatikan tekstur adonan, jika adonan terlalu lembek dan lengket, tambahkan tepung terigu.

Resep ini hanya salah satu dari puluhan resep lain yang dibahas lengkap di buku "Rahasia Sukses Membuat Cake, Roti, Kue Kering & Jajanan Pasar" yang akan terbit di bulan Maret 2012. Yuk langsung preorder bukunya dan dapatkan diskon khusus 25% untuk pemesanan sampai dengan 5 Maret 2010. Untuk order hubungi kami di 021-96016331 atau nsbooks.red@gmail.com. Kami tunggu ya! :)

September 8, 2011

Catatan Hukum Seputar Perjanjian Kredit dan Jaminan

Buku terbaru terbitan Nine Seasons!

Judul: Catatan Hukum Seputar Perjanjian Kredit dan Jaminan
Penulis: Sunu Widi Purwoko
Terbit: Juli 2011
Tebal: xi+222
Harga: 48.000
ISBN: 978-602-95205-4-5

Kalau Anda berkecimpung di dunia perbankan, terutama sering mengurusi prekreditan, maka buku ini adalah buku yang sangat penting untuk Anda miliki.

Sunu Widi, yang sudah 15 tahun berkiprah di dunia hukum perbankan berbagi pengalaman serta pengetahuannya di bidang ini dengan memaparkan 80 isu penting yang sering ditemukan dalam perumusan perjanjian kredit serta jaminan. Antara lain berkaitan dengan syarat sah, covenant perjanjian kredit, jangka waktu ganda, cross collateral, teknik pengikatan jaminan, dan lain sebagainya.

Meski ditulis secara ringan dan mudah dipahami, semua topik mengacu pada kitab undang-undang hukum baik perdata, dagang, maupun pidana sehingga dapat dijadikan acuan bagi praktisi yang memerlukan panduan praktis berkaitan dengan perjanjian kredit dan jaminan.

Buku tersedia di toko buku Gramedia dan Gunung Agung di Jakarta dan Bandung. Atau pemesanan langsung melalui kami dengan menghubungi 021-7991964 atau SMS ke 021-96016331.

February 25, 2011

Review 'Bukan Tanda Jasa' di Harian Aceh

Oleh: Iskandar Norman

Nazaruddin Sjamsuddin tak menyangka pada peringatan hari kebangkitan nasional tahun 2005, ia ditahan atas tuduhan korupsi. Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia itu pun harus mendekam dalam penjara, meski ia dinilai sukses menggelar pesta demokrasi lima tahunan di Indnesia (Pemilu).

Peristiwa itu digambarkan putra Bireuen itu dengan kata “Setelah dipuji, disanjung tinggi, lalu dibanting, dihempas ke bumi,” Nukilan itu ditulisnya dalam puisi sekaligus pengantar bukunya “Bukan Tanda Jasa, Sebuah Otobiografi”.

Buku setebal 668 halaman ini ditulis Nazaruddin Sjamsuddin selama mendekam dalam penjara, dieditoriali oleh putri ketiganya Sallika N Sjamsuddin. Meski sebuah otobiografi, buku terbitan Enesce ini mengungkap beragam peristiwa di lingkungan KPU yang dipimpin Nazaruddin Sjamsuddin kala itu.

Dalam enam bagian buku ini, Nazaruddin mengungkapkan berbagai peristiwa yang dialaminya di lembaga tersebut, mulai saat pertama dirinya bekerja di KPU sampai didakwa melakukan korupsi, dipenjara dan dibebaskan.

Nazaruddin seolah ingin bercerita bahawa ia korban dalam situasi waktu itu. Ia yang memimpin KPU di tengah konflik harus menuai beragam persoalan. Puncaknya pada gagasan penyediaan IT KPU yang kemudian menjeratnya dalam dakwaan korupsi.

Pada halaman 123 buku ini, Nazaruddin mengungkapkan bagaimana dirinya menjadi sasaran kecurigaan sejak Februari 2004. Gaya Nazaruddin dalam menulis buku ini dengan teknik bertutur dan dialog membuat buku ini enak dibaca.

Pada bagian lainnya di halaman 2003 pria kelahiran, Bireuen, 5 November 1944 ini dengan gamblang mengungkapkan upayanya melawan kelicikan di sekitar lingkungan KPU terkait pengadaan logistik pemilu dan pemangkasan harga. Bukan hanya politisi yang harus dihadapinya waktu itu, tapi juga serikat perusahaan percetakan yang memainkan harga cetak logistik pemilu.

Nazaruddin bagai diombang ambing antara kepentingan politisi tertentu dengan kepentingan ekonomi pengusaha percetakan. Namun ketegasannya untuk tetap berada di koridor membuat banyak orang yang tak suka padanya, hingga kemudian membuatnya terhempas dalam dakwaan korupsi. “Tapi berpantang turkan nestapa bukankan Allah menjanjikan bahwa di balik sesuatu musibah ada hikmahnya?” tulis Nazaruddin dalam buku tersebut.

Membaca buku Bukan Tanda Jasa ini, kita seakan dihadapkan pada berbagai peristiwa bangsa ini selama pergelaran Pemilu. Nazaruddin dengan runut dan rinci mengungkapkan ragam peristiwa tersebut, termasuk ragam peristiwa yang tak terekam media. Dengan gamblang ia mengungkap semua peristiwa yang dialaminya.

Bagian keempat buku ini merupakan bagian yang paling pelik dalam babakan kasus yang dialami Nazaruddin. Pada bagian ini ia bercerita bagaimana ia ditangkap KPK, dijebloskan ke rumah tahanan Polda Metro Jaya, diadili di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sampai divonis oleh Pengadilan Tipikor.

Namun Nazaruddin tak menerima begitu saja putusan itu, ia melakukan perlawanan dengan berbagai strategi, termasuk melalui permohonan uji materi dan masalah kekompakan di KPU sendiri.

Buku ini sangat cocok dibaca oleh setiap kalangang baik mahasiswa, akademisi maupun politisi. Namun sebagai sebuah biografi, buku ini tetap saja memiliki kelemahan, karena hanya ditulis dari satu versi saja, yakni versinya Nazaruddin. Semoga buku ini bisa menjadi pancingan untuk memunculkan buku lainnya dalam menguak beragam peristiwa yang belum terungkap seputar pelaksanaan Pemilu di Indonesia.

Judul buku : Bukan Tanda Jasa (Sebuah Otobiografi)
Penulis : Nazaruddin Sjamsuddin
Editor : Sallika N Sjamsuddin
Penerbit : Enesce
Tebal : xii 668 halaman
ISBN : 978-602-954205-0-7
Cetakan : II, Maret 2010

Sumber: blog harian aceh, 15 Agustus 2010

Review 'Bukan Tanda Jasa' di Gatra

Hikmah Berwujud Karya Tulis

oleh Deni Muliya Barus

Buku otobiografi ini tidak sekadar bercerita tentang sejarah hidup seorang Nazaruddin Sjamsuddin yang sukses tapi terempas ke penjara. Melainkan juga menguak praktek permainan politik yang kejam dan kejanggalan hukum terkait kasus korupsi di KPU pada periodenya.

Pada hari Selasa tanggal 24 April 2001, bertempat di Istana Negara, Presiden Abdurrahman Wahid melantik saya bersama sepuluh teman lainnya menjadi anggota Komisi Pemi­lihan Umum (KPU). Dengan pelantikan ini, berarti kami sudah resmi menja­di anggota KPU yang akan bertugas menyelenggarakan Pemilu 2004" (halaman 3).

Begitulah Nazaruddin Sjamsuddin mulai bercerita dalam buku otobiografi­nya. Di awal bagian buku ini diceritakan bagaimana prosesi memasuki KPU. Mulai rekrutmen pencalonan hingga didaulat sebagai ketua. Rupanya perjalanan itu tidak sederhana, tapi dipenuhi dinamika yang jatuh-bangun. Kehadiran guru besar ilmu politik Universitas Indonesia ini di komisi itu diterima banyak pihak dan ditolak pula. Tapi ia tetap diakui sebagai pemimpin yang bukan otoriter.

Kepemimpinannya itu berbuah pada penyelenggaraan Pemilu 2004 yang terbilang sukses. Pengakuan ini datang tidak hanya dari dalam Indonesia, me­lainkan juga dari dunia internasional. Se­bab pemilu tahun itu berjalan demokratis dan relatif aman. Para legislator daerah hingga pusat pun bermunculan secara sah. Termasuk Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang ketika itu dimenangkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono "SBY" dan jusuf Kalla "JK".

Kinerja KPU di bawah komando pria kelahiran Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam, 5 November 1944, itu banyak diakui berbagai kalangan sebagai prestasi yang luar biasa. Sanjungan dan pujian datang silih berganti. Namun kenyataan itu berlangsung hanya sesaat. Sebab, pada 20 Mei 2005, Nazar, demikian ia akrab disapa, ditetapkan sebagai tersangka. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menudingnya terlibat dugaan kasus korupsi di KPU.

Lalu, pada 14 Desember 2005, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menjatuhinya hukuman penjara tujuh tahun. Lebih rendah satu tahun setengah dari tuntutan jaksa. Nazar diharuskan membayar denda Rp 300 juta. Dalam putusan itu, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menyatakan, Nazar terbukti melakukan korupsi dalam pengadaan asuransi kecelakaan diri sehingga merugi­kan keuangan negara Rp 5,03 milyar. Selain didenda, Nazar juga diperintahkan membayar uang pengganti Rp 5,03 milyar secara tanggung renteng dengan Ham­dani Amin, Kepala Biro Keuangan KPU.

Kenyataan pahit itu membanting sanjungan dan pujian serta mengempas­kannya ke bumi. Nazar terlihat berpan­tang turutkan nestapa. Sebab ia yakin, bukankah Allah SWT menjanjikan bahwa di balik musibah ada hikmah yang tak ternilai, baik yang disadari maupun yang tak diketahui. Walaupun, manusia acap­kali tidak mensyukuri hikmah karunia­-Nya. Yang pasti, otobiografi setebal 668 halaman ini merupakan hikmah otentik. Itu semua tanpa disangka dan diduganya.

Hikmah berupa karya tulisan ini menarik dibaca lantaran mengungkap secara detail dan beraturan ujian yang menimpa Nazar. Dalam buku ini pula, banyak sekali peristiwa yang sebelumnya tidak terkuak oleh publik dan media.

Selagi publik ramai mendiskursus­kannya, ternyata banyak permainan po­litik kejam yang menghantam Nazar. Terutama fenomena kejanggalan hukum yang berlangsung di KPK dan pengadil­an. Nazar menyibaknya penuh naratif dan deskriptif. Tak terkecuali pengalaman hidup di balik di jeruji besi hingga men­jadi merdeka seperti sekarang. Meskipun, otobiografi memang bercampur dengan penilaian subjektif diri.

Sumber: majalah Gatra 2-8 September 2010